Umat beragama sudah berpuasa di bulan Ramadhan sejak zaman Ibrahim. Seperti halnya Al-Quran, Kitab
Taurat, Zabur, dan Injil juga diturunkan pada bulan Ramadhan. Bagaimana kaitan Ramadhan dengan Al-Quran?
Sebagai wahyu Allah SWT. ayat-ayat Al-Quran turun secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Setiap kali wahyu turun, Rasulullah melafalkannya dan beberapa sahabat menghafalnya. Ketika banyak sahabat penghafal Al-Quran gugur dalam peperangan, Umar bin Khaththab mengusulkan kepada Khalifah Abubakar Ash-Shidiq untuk membukukannya.
Sebelumnya, menjelang Rasulullah wafat, pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang untuk melakukan evaluasi. Jibril menyuruh Rasulullah melafazkan hafalan Al-Quran untuk di cek akurasinya. Dalam satu bulan Rasulullah bisa khatam 60 kali. Kalau ada kekurangan atau kelebihan, langsung di koreksi oleh Jibril. Itu kontrol terakhir, dan empat bulan setelah itu Rasulullah wafat.
Bahwa proses turunnya ayat Al-Quran berbeda-beda – ada yang disertai suara gemerincing, ada yang disampaikan dengan cara membisikkan, dan lain-lain – itu semua adalah rahasia Allah SWT. Proses turunnya Kitab Taurat, Zabur, dan Injil tidak diceritakan, demikian pula cara para nabi terdahulu menerima wahyu, sebab sejarahnya memang terputus. Nabi Isa berjarak 571 tahun dari Rasulullah, sementara dalam Al-Quran jarang dijelaskan bagaimana proses turun dan diterimanya wahyu Allah kepada para rasul sebelum Muhammad.
Dalam Al-Quran hanya ada cerita, misalnya, Nabi Musa menerima wahyu. Itu pun hanya sekilas, ketika Musa menuju ka Mesir dan mencari api karena saat itu suasana gelap. Lalu turunlah wahyu Allah. Saya kebetulan membaca Injil Barnabas, Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Surat Paulus. Kesimpulan saya, masing-masing kitab itu berbeda, banyak versi yang akhirnya membingungkan. Misalnya cerita sampai Isa dan Yudas Eskariot disalib, versinya banyak.
Di zaman Rasulullah SAW, sudah ada kertas dan tinta yang diimpor dari Cina, sementara di zaman Nabi Isa kertas dan tinta belum dikenal. Di zaman rasul-rasul sebelum Muhammad, yang diandalkan ialah cerita dari mulut ke mulut. Nah, karena mengandalkan cerita itulah, muncul banyak versi. Lima puluh tahun setelah Isa wafat, sudah ada versi Injil sebanyak 60 buah. Sudah bercampur baur antara mitos dan fakta, sehingga mengaburkan sejarah.
Kalau Al-Quran turun di zaman Nabi Isa, ketika komunikasi antar kota masih terbatas, kertas dan tinta belum ada, bukan tak mungkin nasibnya tidak jauh berbeda dengan Injil: banyak versi dan campur baur.
Selain itu hendaknya diketahui bahwa rasul dan nabi sebelum Muhammad hanya diturunkan untuk kaumnya, terbatas pada waktu dan zaman tertentu. Nabi Isa hanya untuk masyarakat Palestina, Nabi Musa hanya untuk bangsa Yahudi. India juga punya nabi, Jepang punya nabi, Cina juga begitu. Tapi, nabi dan rasul yang dijelaskan oleh Al-Quran hanya berjumlah 25 orang.
Amalnya Sedikit
Ketika Al-Quran turun, belum ada kewajiban untuk berpuasa, meskipun nama Ramadhan sudah dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim. Mengapa Al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, itu sama dengan menanyakan mengapa kita lahir pada tanggal sekian. Belakangan memang Ramadhan disebut sebagai bulan suci, saat Al-Quran turun. Padahal sebelum Al-Quran turun, Ramadhan tidak disebut sebagai bulan suci.
Kitab Suci Taurat, Injil, dan Zabur juga diturunkan pada bulan Ramadhan. Penjelasannya – boleh percaya, boleh tidak – sebelum kewajiban puasa pada bulan Ramadhan, orang –orang Mekah sudah berpuasa pada bulan Ramadhan. Cuma, puasanya berbeda-beda, ada yang 30 hari, ada yang 40 hari. Jadi, sudah ada kebiasaan di kalangan umat beragama untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Dan mereka yang berpuasa itu biasanya para elite agama, para pemuka agama saja.
Ketika itu kaum Yahudi berpuasa karena bersyukur setelah selamat dari bencana, sedangkan kaum Nasrani berpuasa karena berduka. Sedangkan perintah berpuasa dalam Islam merupakan kewajiban tanpa pandang situasi dan kondisi. Saat sedih atau senang, tetap wajib berpuasa. Dan puasa itu kewajiban bagi seluruh umat manusia.
Al-Quran adalah etalase yang semua bentuk proses pencarian ada di dalamnya. Nabi Ibrahim mencari sendiri, sedangkan Muhammad di datangi Jibril; pada Ibrahim ada perjuangan, sedangkan pada Muhammad bisa disebut hadiah. Dan apa yang terjadi pada nabi-nabi, sebenarnya, bisa juga terjadi pada orang awam.
Al-Quran adalah petunjuk yang komprehensif, jadi tidak hanya untuk umat Islam. Ada tingkatan-tingkatan orang yang mampu memahami Al-Quran. Yang paling tinggi ialah al-mukarrabun, sangat dekat dengan Allah, imannya sudah paripurna. Kedua, al-abrar, yaitu para wali, ulama. Ketiga, as-salihun, orang saleh. Ke empat, al-‘abidun, para hamba Allah seperti kita. Yang terakhir, orang awam yang amalnya lebih sedikit, dosanya banyak, ilmunya rendah.
Sementara untuk pengamalan Al-Quran, kembali kepada pribadi masing-masing. Memang sekarang ini banyak orang Islam, yang jangankan mengamalkan Al-Quran, membaca saja tidak bisa. Keadaan ini sebenarnya sudah dikatakan oleh Rasulullah, umat Islam nanti terdiri dari empat golongan.
Pertama, orang yang mampu membaca Al-Quran dan mampu mengamalkannya; kedua, orang yang baik, jujur, taat, dan saleh tapi tidak bisa membaca Al-Quran. Ketiga, orang yang bisa membaca Al-Quran tapi tidak mengamalkannya. Yang ini jumlahnya banyak. Mereka rajin mengaji, tapi penyimpangan jalan terus. Mereka membaca Al-Quran sekadar sebagai ritus. Dan yang terakhir, orang yang tidak bisa membaca Al-Quran dan amalannya tidak ada, jadi benar-benar merugi.
Itu juga merupakan tanda-tanda akhir zaman. Rasulullah sudah di beri tahu oleh Allah SWT tentang tanda-tanda akan datangnya Hari Kiamat. Yaitu, apabila Islam tinggal nama dan Al-Quran tinggal berupa tulisan. Saat ini sudah mulai terlihat tanda-tanda seperti itu. Misalnya, masjid dibangun tapi sekadar fisiknya, sedang ibadah di dalamnya tidak berkembang. Padahal, di zaman Rasulullah, masjid bukan hanya sebagai pusat peribadahan, tapi juga pusat kegiatan sosial dan ekonomi, bahkan pusat strategi politik. Pendeknya, semua aktivitas yang berhubungan dengan manusia dan Tuhan di lakukan di masjid.