Archive for October, 2007

Ramadhan dan Nuzulul Quran

Monday, October 29th, 2007

Umat beragama sudah berpuasa di bulan Ramadhan sejak zaman Ibrahim. Seperti halnya Al-Quran, Kitab
Taurat, Zabur, dan Injil juga diturunkan pada bulan Ramadhan. Bagaimana kaitan Ramadhan dengan Al-Quran?

Sebagai wahyu Allah SWT. ayat-ayat Al-Quran turun secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Setiap kali wahyu turun, Rasulullah melafalkannya dan beberapa sahabat menghafalnya. Ketika banyak sahabat penghafal Al-Quran gugur dalam peperangan, Umar bin Khaththab mengusulkan kepada Khalifah Abubakar Ash-Shidiq untuk membukukannya.

Sebelumnya, menjelang Rasulullah wafat, pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang untuk melakukan evaluasi. Jibril menyuruh Rasulullah melafazkan hafalan Al-Quran untuk di cek akurasinya. Dalam satu bulan Rasulullah bisa khatam 60 kali. Kalau ada kekurangan atau kelebihan, langsung di koreksi oleh Jibril. Itu kontrol terakhir, dan empat bulan setelah itu Rasulullah wafat.
Bahwa proses turunnya ayat Al-Quran berbeda-beda – ada yang disertai suara gemerincing, ada yang disampaikan dengan cara membisikkan, dan lain-lain – itu semua adalah rahasia Allah SWT. Proses turunnya Kitab Taurat, Zabur, dan Injil tidak diceritakan, demikian pula cara para nabi terdahulu menerima wahyu, sebab sejarahnya memang terputus. Nabi Isa berjarak 571 tahun dari Rasulullah, sementara dalam Al-Quran jarang dijelaskan bagaimana proses turun dan diterimanya wahyu Allah kepada para rasul sebelum Muhammad.

Dalam Al-Quran hanya ada cerita, misalnya, Nabi Musa menerima wahyu. Itu pun hanya sekilas, ketika Musa menuju ka Mesir dan mencari api karena saat itu suasana gelap. Lalu turunlah wahyu Allah. Saya kebetulan membaca Injil Barnabas, Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Surat Paulus. Kesimpulan saya, masing-masing kitab itu berbeda, banyak versi yang akhirnya membingungkan. Misalnya cerita sampai Isa dan Yudas Eskariot disalib, versinya banyak.

Di zaman Rasulullah SAW, sudah ada kertas dan tinta yang diimpor dari Cina, sementara di zaman Nabi Isa kertas dan tinta belum dikenal. Di zaman rasul-rasul sebelum Muhammad, yang diandalkan ialah cerita dari mulut ke mulut. Nah, karena mengandalkan cerita itulah, muncul banyak versi. Lima puluh tahun setelah Isa wafat, sudah ada versi Injil sebanyak 60 buah. Sudah bercampur baur antara mitos dan fakta, sehingga mengaburkan sejarah.

Kalau Al-Quran turun di zaman Nabi Isa, ketika komunikasi antar kota masih terbatas, kertas dan tinta belum ada, bukan tak mungkin nasibnya tidak jauh berbeda dengan Injil: banyak versi dan campur baur.

Selain itu hendaknya diketahui bahwa rasul dan nabi sebelum Muhammad hanya diturunkan untuk kaumnya, terbatas pada waktu dan zaman tertentu. Nabi Isa hanya untuk masyarakat Palestina, Nabi Musa hanya untuk bangsa Yahudi. India juga punya nabi, Jepang punya nabi, Cina juga begitu. Tapi, nabi dan rasul yang dijelaskan oleh Al-Quran hanya berjumlah 25 orang.

Amalnya Sedikit
Ketika Al-Quran turun, belum ada kewajiban untuk berpuasa, meskipun nama Ramadhan sudah dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim. Mengapa Al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, itu sama dengan menanyakan mengapa kita lahir pada tanggal sekian. Belakangan memang Ramadhan disebut sebagai bulan suci, saat Al-Quran turun. Padahal sebelum Al-Quran turun, Ramadhan tidak disebut sebagai bulan suci.

Kitab Suci Taurat, Injil, dan Zabur juga diturunkan pada bulan Ramadhan. Penjelasannya – boleh percaya, boleh tidak – sebelum kewajiban puasa pada bulan Ramadhan, orang –orang Mekah sudah berpuasa pada bulan Ramadhan. Cuma, puasanya berbeda-beda, ada yang 30 hari, ada yang 40 hari. Jadi, sudah ada kebiasaan di kalangan umat beragama untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Dan mereka yang berpuasa itu biasanya para elite agama, para pemuka agama saja.

Ketika itu kaum Yahudi berpuasa karena bersyukur setelah selamat dari bencana, sedangkan kaum Nasrani berpuasa karena berduka. Sedangkan perintah berpuasa dalam Islam merupakan kewajiban tanpa pandang situasi dan kondisi. Saat sedih atau senang, tetap wajib berpuasa. Dan puasa itu kewajiban bagi seluruh umat manusia.

Al-Quran adalah etalase yang semua bentuk proses pencarian ada di dalamnya. Nabi Ibrahim mencari sendiri, sedangkan Muhammad di datangi Jibril; pada Ibrahim ada perjuangan, sedangkan pada Muhammad bisa disebut hadiah. Dan apa yang terjadi pada nabi-nabi, sebenarnya, bisa juga terjadi pada orang awam.

Al-Quran adalah petunjuk yang komprehensif, jadi tidak hanya untuk umat Islam. Ada tingkatan-tingkatan orang yang mampu memahami Al-Quran. Yang paling tinggi ialah al-mukarrabun, sangat dekat dengan Allah, imannya sudah paripurna. Kedua, al-abrar, yaitu para wali, ulama. Ketiga, as-salihun, orang saleh. Ke empat, al-‘abidun, para hamba Allah seperti kita. Yang terakhir, orang awam yang amalnya lebih sedikit, dosanya banyak, ilmunya rendah.

Sementara untuk pengamalan Al-Quran, kembali kepada pribadi masing-masing. Memang sekarang ini banyak orang Islam, yang jangankan mengamalkan Al-Quran, membaca saja tidak bisa. Keadaan ini sebenarnya sudah dikatakan oleh Rasulullah, umat Islam nanti terdiri dari empat golongan.

Pertama, orang yang mampu membaca Al-Quran dan mampu mengamalkannya; kedua, orang yang baik, jujur, taat, dan saleh tapi tidak bisa membaca Al-Quran. Ketiga, orang yang bisa membaca Al-Quran tapi tidak mengamalkannya. Yang ini jumlahnya banyak. Mereka rajin mengaji, tapi penyimpangan jalan terus. Mereka membaca Al-Quran sekadar sebagai ritus. Dan yang terakhir, orang yang tidak bisa membaca Al-Quran dan amalannya tidak ada, jadi benar-benar merugi.

Itu juga merupakan tanda-tanda akhir zaman. Rasulullah sudah di beri tahu oleh Allah SWT tentang tanda-tanda akan datangnya Hari Kiamat. Yaitu, apabila Islam tinggal nama dan Al-Quran tinggal berupa tulisan. Saat ini sudah mulai terlihat tanda-tanda seperti itu. Misalnya, masjid dibangun tapi sekadar fisiknya, sedang ibadah di dalamnya tidak berkembang. Padahal, di zaman Rasulullah, masjid bukan hanya sebagai pusat peribadahan, tapi juga pusat kegiatan sosial dan ekonomi, bahkan pusat strategi politik. Pendeknya, semua aktivitas yang berhubungan dengan manusia dan Tuhan di lakukan di masjid.

Cucu Rasulullah Dalam Puisi Para Sufi

Monday, October 29th, 2007

Cucu Rasulullah Dalam Puisi Para Sufi

“Sesungguhnya anakku, Husein, lebih mirip Nabi SAW dan tidak mirip Ali.” (Fatimah Az-Zahrah)

Ucapan Fatimah binti Muhammad SAW itu menyiratkan betapa tinggi kedudukan Husein di mata ibundanya. Memang. Husein adalah cucu kesayangan Rasulullah SAW. Pernah, suatu hari, Rasulullah SAW sujud sangat lama – bukan hanya karena ingin lebih sangat dekat dengan Allah SWT, melainkan terutama karena menjaga agar Husein dan abangnya, Hasan, tidak terjatuh dari punggung beliau. Ketika itu kedua cucunda itu tengah bermain-main di atas punggung kakeknda. Sungguh kasih sayang yang luar biasa!

Banyak hadits yang mengungkapkan kecintaan Rasulullah SAW kepada cucunda. Husein lahir di Medinah pada 5 Syakban 4 H/584 M, dari pasangan Fatimah Az-Zahrah binti Muhammad Rasulullah SAW dan salah seorang sahabat Nabi yang utama, Ali bin Abi Thalib. Berkat lingkungan yang sangat kuat dalam iman inilah, Husein terdidik sebagai sosok yang berkarakter kuat dengan kepribadian yang mandiri.

Bersama sang abang, Hasan, ia sempat menikmati hidup bersama sang kakek, yang tiada lain adalah Rasulullah SAW. Tak mengherankan jika nama mereka juga sering dijumpai dalam beberapa hadits yang berhubungan dengan masalah ibadah. Misalnya, ketika Hasan dan Husein yang masih anak-anak bermain-main dan naik ke punggung Rasulullah SAW. sementara Rasul meneruskan sujudnya tanpa sedikit pun terganggu. Kelahiran Husein sungguh membuat Rasulullah sangat gembira dan bahagia.

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Rasulullah bersabda, “Husein dari aku dan aku dari Husein. Semoga Allah mencintai orang yang mencintainya.” Dalam hadits yang lain Nabi bersabda, “Hasan dan Husein memberi rasa harum pada dunia.” Di lain waktu, Nabi bersabda, “Siapa yang ingin melihat ahli surga lihatlah Husein.” Suatu hari, Rasulullah SAW menggendong Husein di pundaknya sambil berdoa, “Ya Allah, aku mencintainya, maka cintailah ia.”

Husein menikah dengan Syahr Banu, salah seorang putri Khosru Yasdajird II dari Dinasti Sasanid II di Persia (sekarang Iran) yang di bawa oleh pasukan muslim ke Medinah setelah mereka membebaskan Persia. Dengan Syahr Baru, Husein dianugerahi oleh Allah SWT empat putra, yaitu Ali Al-Akbar, Ali Al-Asgar, Ali Ausat, Abdullah, dan tiga putri, Zaenab, Sakinah, dan Fatimah. Semua anak Husein terbunuh kecuali Ali Ausat yang kemudian dikenal dengan nama Ali bin Husein Zaenal Abidin. Dialah satu-satunya keturunan Rasulullah SAW yang selamat dari pembantaian di Padang Karbala.

Purnama Muharam
Tragedi Karbala dan posisi Husein banyak mengilhami para penyair sufi untuk mengungkapkan empati mereka. Menurut pengamat dunia sufi, Annemarie Schimmel, yang menarik ialah justru para penyair sufi dari mazhab Suni, dan bukan para sufi Syi’ah, yang mengungkapkan derita Husein. Mereka cenderung memandangnya sebagai model nestapa jiwa yang sangat sentral. Nama Husein juga muncul beberapa kali dalam puisi sufi besar Iran, Sana’i (wafat 1131 M), yang dilukiskan sebagai simbol keberanian dan kerelaan berkorban.

Agamamu adalah Husein-mu
Kerakusan dan nafsu keinginanmu adalah
babi dan anjing-anjingmu
Engkau bunuh agamamu, dan kau pelihara
babi dan anjing-anjingmu

Pada akhir abad ke-13 M atau awal abad ke-14 M, seorang sufi asal Turki, Yunus Emre, menulis puisi tentang cucu-cucu Rasulullah SAW. Mereka diungkapkan sebagai air mancur para syuhada, air mata para wali, anak-anak domba Ibu Fatimah. Kedua cucu Rasulullah, Hasan dan Husein, juga dilambangkan sebagai raja dari delapan surga, penolong yang berdiri di pinggir telaga Al-Kautsar dan membagi-bagikan air kepada orang-orang yang kehausan. Ungkapan itu niscaya merupakan ratapan yang sangat pedih mengingat penderitaan Husein yang kehausan di Padang Pasir Karbala yang kering kerontang.

Penyair sufi Muhammad Muhsin (1709-1750 M) dari Thatta, ibukota provinsi Sind Hilir, menulis puisi dengan simbolisasi yang sangat kuat dan indah:

Perahu keluarga Al-Musthafa tenggelam
di lautan darah
Awan kekafiran nan hitam menutupi matahari
Pelita Nabi tertiup mati oleh angin yang
dibawa orang-orang Kufah

Penyair sufi lainnya yang menulis puisi tentang syahidnya cucu Rasulullah SAW ialah Syah Abdul Lathif (1680-1752 M). Ia menggambarkan suasana sedih ketika tak kunjung terdengar kabar dari rombongan Husein (yang ia sebut sebagai “pahlawan”) yang berangkat ke Kufah:

Purnama Muharam telah muncul
dan muncul kecemasan tentang para pangeran
Apa yang telah terjadi?
Muharam telah datang lagi
tapi para imam belum datang
Wahai para pangeran dari Medinah
semoga Allah mengumpulkan kita bersama

Buka Dan Sahur Ala Rasulullah SAW

Monday, October 29th, 2007

Makan Sahur
Diriwayatkan oleh Amru bin Ash, Rasulullah berkata “Beda antara puasa kami dengan puasa ahlu kitab (Nasrani dan Yahudi) adalah makan sahur.” Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan agar makan sahur bagi orang yang akan berpuasa. Beliau berkata “Siapa yang mau berpuasa, hendaklah bersahur meskipun hanya sedikit.”

Rasulullah berkata “Bersahurlah karena dalam sahur terdapat keberkahan.” Waktu sahur hendaknya diakhirkan. Diriwayatkan Anas dari Zaid bin Tsabit “Aku telah bersahur dengan Nabi SAW lalu beliau pergi bershalat. Aku bertanya, berapa lama waktu antara sahur dan adzan subuh? Beliau menjawab, kira-kira sekedar bacaan 50 ayat Al-Qur’an.

Berbuka
Berbuka puasa hendaknya dipercepat, begitu terdengar adzan maghrib. Dari Sahal bin Sa’ad, bahwa Rasulullah SAW bersabda “Orang yang sedang berpuasa itu senantiasa dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasanya.” Abu Darba mengatakan “Tiga hal dari akhlak kebaikan yaitu mempercepat berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur dan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat.

Rasulullah menganjurkan dalam berbuka puasa supaya memakan makanan yang manis seperti kurma atau kalau tidak ada maka minumlah air. Diriwayatkan oleh Sulaiman bin Amir Adhabi, Rasulullah bersabda “Bila salah seorang diantara kalian berpuasa maka berbukalah dengan kurma karena ia mengandung keberkahan. Kalau tidak menemukannya supaya minum air karena ia mensucikan.”

Wajib di Jauhi
Orang yang sedang berpuasa maka harus pula berpuasa dari perbuatan dosa dan maksiat. Lidahnya tidak berbohong, tidak berbicara kotor atau bicara palsu. Perutnya puasa dari makan dan minum, pikirannya tidak kotor dan hatinya suci. Kemaluannya berpuasa dari bersetubuh, bila berbicara dan bertindak tidak merusak puasanya. Namun senantiasa dalam kebaikan.

Rasulullah bersabda “Siapa yang tidak bisa meninggalkan bicara palsu dan bekerja dengan itu, maka Allah tidak butuh pada orang itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya.

Kemudian Rasulullah SAW juga menjelaskan “Puasa itu bukan dari makan dan minum saja, akan tetapi puasa dari bicara sia-sia dan jorok. Jika ada yang memaki kami atau memperbodohmu, katakanlah : Saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa.”

Memberi Makan Orang yang Berbuka Puasa
Hendaklah memperbanyak ibadah dan amal shaleh di bulan yang penuh ampunan ini. Salah satu amalan shaleh yang dianjurkan ialah memberi makan orang yang berpuasa. Sabda Rasulullah SAW “Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka puasa dan memberi bekal bagi orang yang pergi berjihad maka pahalanya sebesar pahala orang yang berpuasa itu.” Orang yang diberi atau diundang berbuka puasa, selesai makan dianjurkan mendoakan orang itu berdasarkan tuntunan.

Rasulullah SAW “Orang-orang Abror (baik) telah makan makanan kalian, para malaikat telah bersalawat antara kalian dan orang-orang  berpuasa telah berbuka di rumah kalian. Ya Allah, beri makan siapa yang memberiku makan dan beri minum siapa yang memberiku minum. Ya Allah, ampunilah dan kasihanilah mereka dan berkatilah rizki yang Engkau berikan kepada mereka.”

Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua. Amiin.

Anjuran Nabi Untuk Melanggengkan ZIKIR

Monday, October 29th, 2007

Selama ini kita berprasangka bahwa kita jauh dari Allah. Padahal Sesungguhnya Allah begitu dekat. Dia melihat, menatap dengan penuh cinta, serta senantiasa mengatur segala kebutuhan kita. Memperbanyak zikir menjadikan kita merasa dekat dengan-Nya.

Kalau sekarang kita seringkali menjumpai orang biasa berzikir seraya mengucapkan kalimat tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat, itu lantaran ketiganya merupakan amalan yang luar biasa: sebuah amalan yang tidak berat, namun mendatangkan banyak manfaat dan pahala. 
Ibnu Qayyim dalam bukunya al-Wabil ash-Shaibi, menulis bahwa manfaat zikir, diantaranya: menjauhkan diri dari kegelisahan dan kesedihan hati, menjadikan hati lapang, kian mendekatkan diri pada-Nya, sarana kembali dan berserah diri pada-Nya, sarana untuk menyelamatkan diri dari adzab Allah dan masih banyak manfaat lainnya.

Memang kata “zikir” secara harfiyah diartikan ingat, baik dengan hati maupun dengan lisan. Istilah “zikir” atau “zikrullah” secara umum diartikan mengingat Allah atau menyebut asma Allah. Ini ditegaskan dalam firman-Nya: “Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa” (QS. Al-Kahfi: 24). Dengan kata lain, ketika seseorang ingat kepada Allah berarti ia merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya, dan sebaliknya menjauhkan diri  dari lupa kepada-Nya.

Zikir adalah tiang penopang menuju Allah. Tak seorang pun bisa mencapai Tuhan kecuali dengan terus menerus zikir kepada-Nya. Jadi zikir adalah puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang. Bahkan bagi kalangan sufi, zikir merupakan metode spiritual dalam mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah). Zikir pula yang bisa menghantarkan seseorang ke tingkat zuhud, salah satu maqam yang harus ditempuh oleh seorang sufi.

Salah satu amalan yang dianjurkan bagi kita untuk melanggengkan zikir adalah memperbanyak membaca kalimat tasbih, tahmid serta takbir sehabis shalat. Setelah shalat lima waktu adalah waktu utama dan diharapkan doa bisa terkabul. Dalam satu riwayat, Nabi pernah didatangi sekelompok orang fakir (miskin) yang gundah karena tidak bisa menyamai ibadahnya orang-orang kaya. Mereka berkata: “Orang-orang kaya akan mencapai derajat tinggi dan kenikmatan yang abadi. Sebab mereka menjalankan shalat sebagaimana kami shalat dan menunaikan puasa sebagaimana kami puasa. Namun, mereka memiliki kelebihan harta hingga bisa melaksanakan ibadah haji dan umrah, berjihad lewat harta dan dapat pula bersedekah.”

Nabi saw.menghiburnya seraya bersabda: “Maukah kukatakan sesuatu yang apabila dikerjakan, kalian akan mampu mengejar orang-orang yang mengunggulimu (dalam beribadah)? Tak akan ada yang melampaui kalian dan derajat kalian akan lebih baik dari orang-orang yang hidup bersama kalian kecuali (mereka) mengerjakan hal yang sama. Ucapkanlah tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), dan takbir (Allahu akbar) masing-masing tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat.”

Dengan perkataan ini, Rasulullah saw.ingin menunjukan kepada golongan orang-orang miskin tentang amalan-amalan ringan dan mudah dilaksanakan, namun pahala dan balasannya sangat besar. Dengan amal-amal tersebut, mereka bisa mengejar orang-orang yang mengunggulinya (orang-orang kaya) dan tidak seorang pun bisa melampauinya kecuali jika orang-orang kaya melakukan hal yang sama. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: “Dan menutup bacaan yang keseratus dengan ucapan La ilaha illa Allah wahdahu  la syarika lahu (Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya).

Ucapan tasbih mengandung maksud menafikan/meniadakan sifat-sifat kekurangan-Nya, membersihkan dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi dzat-Nya. Tahmid mengandung penetapan adanya kesempurnaan hanya untuk Allah. Serta takbir menjelaskan bahwasanya Allah Maha Besar dari segala sesuatu dan ketaatan kepada-Nya mendahului segalanya. Adapun ucapan penutup la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lahu untuk menunjukkan ke-Esa-an-Nya, sebab Dia maha Suci lagi Maha Tunggal.

Memang mengucapkan ketiga kalimat itu merupakan bagian kecil dari zikir – karena zikir bukan sekadar melafazkan kalimat-kalimat tersebut–, namun siapa pun yang melanggengkan kebiasaan ini lebih baik (unggul)  ketimbang orang yang tidak melakukannya. Seperti disinggung oleh Nabi, orang miskin bisa melampaui orang kaya jika membiasakan zikir dengan kalimat tasbih, tahmid dan takbir. Semoga kita bisa meneladani anjuran rasul yang mulia ini.