Cucu Rasulullah Dalam Puisi Para Sufi

Cucu Rasulullah Dalam Puisi Para Sufi

“Sesungguhnya anakku, Husein, lebih mirip Nabi SAW dan tidak mirip Ali.” (Fatimah Az-Zahrah)

Ucapan Fatimah binti Muhammad SAW itu menyiratkan betapa tinggi kedudukan Husein di mata ibundanya. Memang. Husein adalah cucu kesayangan Rasulullah SAW. Pernah, suatu hari, Rasulullah SAW sujud sangat lama – bukan hanya karena ingin lebih sangat dekat dengan Allah SWT, melainkan terutama karena menjaga agar Husein dan abangnya, Hasan, tidak terjatuh dari punggung beliau. Ketika itu kedua cucunda itu tengah bermain-main di atas punggung kakeknda. Sungguh kasih sayang yang luar biasa!

Banyak hadits yang mengungkapkan kecintaan Rasulullah SAW kepada cucunda. Husein lahir di Medinah pada 5 Syakban 4 H/584 M, dari pasangan Fatimah Az-Zahrah binti Muhammad Rasulullah SAW dan salah seorang sahabat Nabi yang utama, Ali bin Abi Thalib. Berkat lingkungan yang sangat kuat dalam iman inilah, Husein terdidik sebagai sosok yang berkarakter kuat dengan kepribadian yang mandiri.

Bersama sang abang, Hasan, ia sempat menikmati hidup bersama sang kakek, yang tiada lain adalah Rasulullah SAW. Tak mengherankan jika nama mereka juga sering dijumpai dalam beberapa hadits yang berhubungan dengan masalah ibadah. Misalnya, ketika Hasan dan Husein yang masih anak-anak bermain-main dan naik ke punggung Rasulullah SAW. sementara Rasul meneruskan sujudnya tanpa sedikit pun terganggu. Kelahiran Husein sungguh membuat Rasulullah sangat gembira dan bahagia.

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Rasulullah bersabda, “Husein dari aku dan aku dari Husein. Semoga Allah mencintai orang yang mencintainya.” Dalam hadits yang lain Nabi bersabda, “Hasan dan Husein memberi rasa harum pada dunia.” Di lain waktu, Nabi bersabda, “Siapa yang ingin melihat ahli surga lihatlah Husein.” Suatu hari, Rasulullah SAW menggendong Husein di pundaknya sambil berdoa, “Ya Allah, aku mencintainya, maka cintailah ia.”

Husein menikah dengan Syahr Banu, salah seorang putri Khosru Yasdajird II dari Dinasti Sasanid II di Persia (sekarang Iran) yang di bawa oleh pasukan muslim ke Medinah setelah mereka membebaskan Persia. Dengan Syahr Baru, Husein dianugerahi oleh Allah SWT empat putra, yaitu Ali Al-Akbar, Ali Al-Asgar, Ali Ausat, Abdullah, dan tiga putri, Zaenab, Sakinah, dan Fatimah. Semua anak Husein terbunuh kecuali Ali Ausat yang kemudian dikenal dengan nama Ali bin Husein Zaenal Abidin. Dialah satu-satunya keturunan Rasulullah SAW yang selamat dari pembantaian di Padang Karbala.

Purnama Muharam
Tragedi Karbala dan posisi Husein banyak mengilhami para penyair sufi untuk mengungkapkan empati mereka. Menurut pengamat dunia sufi, Annemarie Schimmel, yang menarik ialah justru para penyair sufi dari mazhab Suni, dan bukan para sufi Syi’ah, yang mengungkapkan derita Husein. Mereka cenderung memandangnya sebagai model nestapa jiwa yang sangat sentral. Nama Husein juga muncul beberapa kali dalam puisi sufi besar Iran, Sana’i (wafat 1131 M), yang dilukiskan sebagai simbol keberanian dan kerelaan berkorban.

Agamamu adalah Husein-mu
Kerakusan dan nafsu keinginanmu adalah
babi dan anjing-anjingmu
Engkau bunuh agamamu, dan kau pelihara
babi dan anjing-anjingmu

Pada akhir abad ke-13 M atau awal abad ke-14 M, seorang sufi asal Turki, Yunus Emre, menulis puisi tentang cucu-cucu Rasulullah SAW. Mereka diungkapkan sebagai air mancur para syuhada, air mata para wali, anak-anak domba Ibu Fatimah. Kedua cucu Rasulullah, Hasan dan Husein, juga dilambangkan sebagai raja dari delapan surga, penolong yang berdiri di pinggir telaga Al-Kautsar dan membagi-bagikan air kepada orang-orang yang kehausan. Ungkapan itu niscaya merupakan ratapan yang sangat pedih mengingat penderitaan Husein yang kehausan di Padang Pasir Karbala yang kering kerontang.

Penyair sufi Muhammad Muhsin (1709-1750 M) dari Thatta, ibukota provinsi Sind Hilir, menulis puisi dengan simbolisasi yang sangat kuat dan indah:

Perahu keluarga Al-Musthafa tenggelam
di lautan darah
Awan kekafiran nan hitam menutupi matahari
Pelita Nabi tertiup mati oleh angin yang
dibawa orang-orang Kufah

Penyair sufi lainnya yang menulis puisi tentang syahidnya cucu Rasulullah SAW ialah Syah Abdul Lathif (1680-1752 M). Ia menggambarkan suasana sedih ketika tak kunjung terdengar kabar dari rombongan Husein (yang ia sebut sebagai “pahlawan”) yang berangkat ke Kufah:

Purnama Muharam telah muncul
dan muncul kecemasan tentang para pangeran
Apa yang telah terjadi?
Muharam telah datang lagi
tapi para imam belum datang
Wahai para pangeran dari Medinah
semoga Allah mengumpulkan kita bersama

Leave a Reply